Pari'an Suroboyoan
 |
|
|
 |
Surabaya Lima Tahun Ke Depan...
Arif Afandi memang bukan sosok baru di Surabaya. Namanya sudah terukir sebagai wakil wali kota Surabaya sebelum maju ke kancah pilwali 2 Juni 2010 ini.
Mantan pemimpin redaksi Jawa Pos itu... |
|
|
|
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jum'at, 04 Juni 2010 Arif Launching Buku "Besarkan Kue Bersama, Bukan Berebut Kue Bersama"
Surabaya - Naluri Arif Afandi sebagai seorang jurnalis memang tidak bisa dipungkiri. Meski saat ini kesehariannya menjabat sebagai wakil walikota, namun keinginannya menyebarkan informasi dan menulis tetap selalu terngiang dalam benaknya.
Tidak tanggung-tanggung, sepasang buku diluncurkan oleh calon walikota periode 2010-2015 ini. Ia pun berinisiatif sendiri menerbitkan tulisan sang istri, Tjahjani Retno Wilis.
Cerita tentang berbagai ilustrasi kehidupan kesehariannya, ia tuangkan dalam buku yang ia beri judul "Cerita Kaum 'Pembesar'". Peluncuran buku di Cafe Taman, Hotel Plaza Surabaya ini pun dipenuhi para akademisi, dan pecinta buku di Surabaya, Jumat (4/6/2010).
"Saya yakin, uang saya disini itu tidak begitu berarti. Orang pasti punya cara sendiri untuk berbagi, dan saya pilih berbagi dengan ilmu. Semoga dengan budaya seperti ini, mendorong kita untuk bisa selalu bersama-sama dengan waktu yang lama," kata Arif, saat memberi sambutan pada Peluncuran Buku Sarimbit.
Hadir pula beberapa nama yang juga ikut menjadi pengantar buku Arif dan istrinya. Diantaranya adalah Sirikit Syah dan Dhimmam Abror, serta Lan Fang sebagai moderator diskusi sore itu.
Diskusi makin dinamis, beberapa panelis hadir dari berbagai kalangan aktivis. Salah satunya Diana Sasa, perwakilan dari komunitas Indonesia Buku. Ia kagum dengan pernyataan Arif terkait hobinya untuk mendokumentasikan setiap momen dalam hidup.
"Pak Arif, saya kagum bahwa Anda pun suka mendokumentasikan momen dalam hidup. Saya dan kawan-kawan pun menghabiskan waktu setiap hari hanya untuk mendokumentasikan setiap berita yang muncul di blog-blog yang aktif. Saya makin bersemangat bahwa seorang Arif Afandi pun juga menghargai pekerjaan seperti ini," terang perempuan yang akrab dipanggil Sasa.
Sebagai wakil walikota, Arif mengaku selalu ingin mengabadikan segala momen dan tidak mau tertinggal sejarah. Kegiatan dokumentasi adalah sangat penting bagi suata bangsa.
"Dalam hidup, saya cenderunng untuk mengebaikan setiap langkah saya. Terlebih sekarang saat menjabat sebagaui wawali, saya tidak mau tertinggal sejarah. Dokumentasi itu penting," ujarnya.
Di sela-sela peluncuran bukunya, Arif pun mengutarakan niatnya untuk membukukan tesis yang ditelitinya saat tengah menggapai S2. Baginya, tesis yang berjudul Relasi Antara Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ini perlu juga disosialisasikan untuk transparansi.
"Nanti kalau sempat, saya juga ingin membukukan tesis saya. Saya ini kok nggak tahan kalau nggak nulis, jadi ya seperti ini, nulis terus," ujarnya pada para panelis dan jurnalis yang saat itu tengah mengikuti diskusi.
Selain mendapat pujian, Arif dan Wilis juga menuai kritik. Namun keduanya fair, dengan tangan terbuka Arif dan istri pun menerima kritik dari para panelis.
Termasuk saat para jurnalis menanyakan terkait penghitungan ulang surat suara yang sekarang tengah proses dilakukan di beberapa kecamatan. Arif mengaku menyerahkan semuanya pada pihak-pihak yang bertugas. Hanya Arif mengimbau agar para Panwas dan PPK supaya menjalankan tugas dengan baik.
"Proses penghitungan ulang ini saya harap bisa dilakukan secara fair. Ayo kita kerja secara profesional agar hak suara tidak terbuang sia-sia," kata Arif Afandi.
|
berita terkait :
|
|
| |
| |
|
|